VIEW POST

View more
Permainan Kata

Musim Satu; Malam Pertama

By on November 21, 2017

"Yang Satu"

Oleh Kaki Telanjang

Seorang lelaki dengan kotoran di dadanya,
terhenti di sebuah jalan bercabang
Yang kedua jalurnya
ditandai oleh dua pohon berbeda.
Angsana dan Bidara.

Jalan itu telah berbeda.
Harusnya hanya ada satu jalan saja.
Yang membawanya pada suatu negara:

di mana terdapat satu pemimpin
yang bisa menjelma raja
dan ratu--yang memiliki ajudan wagu yang lugu-lugu.

Merasa penasaran,
ia ambil sebuah buku indikasi dari saku.
Melihat senarai
dengan lihai.

Lalu ia baca sebuah halaman,
yang kelak membuat langkahnya terus berjalan.
Menebas rungsing pawana,
menebus keingintahuannya.

Sebab di hatinya sudah terdapat mendung langit
Yang tak kuasa lagi membendung langut.

Hingga nanti di suatu hari tiba
bukan hanya khayal belaka.
Surat yang diberi oleh-Nya
harus dihadiri kedatangannya.

Dan lelaki itu berkata, hingga sedalamnya ampas kata, hingga sebijaknya impas kita: "O, jalan bercabang. Aku memilih jalan lurus saja!"

Dengan menyebut nama-Nya
Ia melenggang dengan bahagia.

"Merindulah"

Oleh Mutia Harahap

Adalah hati, sebuah negara dalam gemelut keriuhan batin. Tentunya kekosongan yang melompong, lagi kekeringan yang kerontang, tidak baik bagi kesejahteraan empunya.

Khayalan berpatri dalam bongkahan ilusi, sadarkan segera. Masih ada serombongan misi-- yang lebih dari sekedar harap. Tebus dan cairkan-- rindumu yang membeku. Selama ini, dia selalu ada dalam malam-malam jalang. Sudah sepatutnya kau tebas. Agar keadaan menjadi impas.

Lambaian angsana belia, menguji lapisan dimensi terdalam naluriah insani. Dalam keliaran kacamata praduga, terabaikan rombongan kaki-kaki telanjang tak menjejak. Padahal mereka sedang berteriak. Berusaha menyuarakan decak di permukaan laut tak berombak. Pun kapal tanpa awak.

Tersebutlah nyanyian hati Sang Raja, berlantun kidung menuntut jawab. Menyenaraikan ragunya dalam deret singgasana bersekat, tak sewarna. Sedang kawanan langut, berdaulat seumpama dayang-dayang tanpa bayang.

Merindulah seorang Baginda. Merindu akan sayu pandang Ratunya. Bila itu melegakan asamu, meraunglah sejadinya. Muntahkan tinta sedan dalam bait-bait tak berpemilik. Karena gemamu akan kerinduan, lebih dari berlembar surat malang yang lupa jalan pulang.

Abaikan! Abaikanlah bila wagu mata memandang. Atau bilamana mengucur peluh tanpa aba pun instruksi.

Bebaskan! Bebaskan saja gejolak bara luka, yang mengindikasikan kelemahan saraf logis. Entah itu dia atau siapa, cobalah memberi masa pun luang sama.

Nikmati kegilaan asamu, beri celah untuk dia bersorak ria. Pawana biru muda akan berhembus. Mematahkan ranting-ranting bidara tua di sekitar masa landai.

Oleh karenanya Baginda, janganlah ragu merindu. Sebab kepulannya membubung, menancap ⅔ kawasan kemilau delusi. Mengetuk pintu-pintu radar sejati.

Merindulah.

"Surat Kecil Untuk Sukab."

Oleh Atik Herawati

Sukab,

Bagaimana mungkin aku bermimpi melihat Alina, padahal sudah berhari-hari tak ada senja mampir di tempatku.

Ya, Sukab. Alinamu. Memeluk erat sebuah surat dengan wagu. Seolah surat itu berasal dari negara yang jauh dan asing.
Dari sembab matanya, berguguran kuntum Bidara juga kelopak Angsana.

Kau mesti segera datang, Sukab. Menebus sudut langut hati Alina sampai impas. Sekerat senja yang kau kirimkan menjelma khayalan yang membuat Alina makin sendu. Makin ingin bertemu. Menyusun senarai cerita tentang senja dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan yang akan kalian nikmati berdua.

Ah, Sukab. Adakah yang lebih berduka selain hati yang rindu? Kau yang mengirimkan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia, tentu lebih tahu.

"Aku lelaki, yang ditebus malaikat sunyi."

Oleh Zainab Azzahra

Terbawa pawana hingga ke negara berbeda. Membawa surat dari raja untuk ratunya. Kini, kau ada dalam perjalanan langit yang melangut.

Kau bicara tentang khayalan yang tak mampu kau gapai. Kau bicara tentang langit yang membuatmu wagu, diam membisu. Dingin, panas, kemarau, lalu hujan semua mengindikasikan seolah impas.

Ohh yaa... Tentang "IYA" dari senarai syahdumu, aku bahagia mendengarnya. Dan aku berdoa: dalam setiap bicara itu, semoga selalu ada usaha yang mengiringinya. Usaha untuk menjaga. Aku tahu dirimu sekokoh angsana. Bahkan, bidara pun cemburu karena harumnya.

Adakah kau tahu? berbagai gelombang isyarat yang kukirimkan entah melalui frekuensi apa, selalu hanya untuk berkata "aku ada". Tolong. Tolong sadari, aku ada. Agar kau dan harumnya terjaga. Dan tolong jangan memudarkan pesona. berusahalah menjaga-- diriku, biar aku yang menjaga. Sebermula aku sadar bahwa kau ada.

"Mairat sebuah hati "

Oleh Eka Suswanti Lubis

Di bawah angsana yang tua laki dan perempuan itu berikrar untuk menjadi raja dan ratu. Meskipun laki adalah seorang yang wagu namun semua tetap impas karena perempuan memiliki keramahan yang alot sehingga khayalan mereka akan istana yang harmonis tetap terwujud.

Cara mereka yang selalu sepakat untuk membuat senarai dari apa saja yang mereka butuhkan membuat semua satu per satu dapat ditebus tepat pada waktunya. Saling melengkapi memang akan membentuk kemesraan yang tiada tara.
Namun seiring usia berlanjut, siapa yang kira kisah cinta mereka berada dalam kondisi akut.

Bermula ketika indikasi itu menampakkan diri sampai akirnya surat dokter menyatakan pengumuman resmi. Kala itu pula pawana menghembuskan sedu yang menyesakkan dada dan itu semakin menjadi-jadi ketika perempuan mengatakan permintaan bahwa ia ingin dimandikan dengan air daun bidara agar jasadnya dapat terlelap dengan ayem bukan karena luka justru agar hibatnya tetap terjaga.

Sejak hari itulah laki hidup dengan menabung langut membuat hidupnya bagaikan negara tanpa tujuan.

"Aku Ingin"

Oleh Andri Siswono

Kan kutebus tiap baik-benar sampai impas, dan kita bebas tanpa perlu merasa wagu.

Namun aku hanya ingin menjadi pohon angsana, tumbuh di halaman istana negara bersama pohon bidara, pun keduanya rela dan pasrah dihembus pawana tanpa pernah menuntut apa-apa.

Bagiku Indikasi bukanlah reaksi atau semacam janji suci. Melainkan engkau yang tak tahu malu mengisi kepalaku; sesak penuh ketertarikan.

Dan, melangut adalah aku yang berkhayal tentang senarai puisi "Aku ingin".

Sebab kisah kasihnya bagai raja dan ratu yang keduanya hanya berkirim surat karena dipisahkan ruang dan waktu.

READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Permainan Kata Samsara Kata

Mencoba Satir

By on August 29, 2017
Permainan kata-kata melalui grup whatsapp, kami ingin membuat sebuah tulisan satir.
READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Resensi Buku

Rashomon

By on June 18, 2017

Ssst, mari kita buka dengan lirik-lirik dari Sore ini: “Dan ku tahu kau tak pernah bilang gila-Dan tak pernah kau ku tahu bilang gila-Namun…

READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Resensi Buku

Tagore Dan Masa Kanak

By on June 17, 2017

“Rani Mukherjee, Preity Zinta, Kajol dan… Shahrukh Khan,” lantas apalagi? “kain sari, inspektur vijay dan…. govinda!.” Bollywood, semua yang terucap ketika tiba pertanyaan tentang…

READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Puisi

KALAH

By on June 15, 2017

Mencintamu tanpa tapi. Lebih berani dari pelacur yang sudi jual diri. Menghampirimu yang sibuk mencari jalan untuk lari.

Mata sendumu pandai merayu, menarikku tenggelam ke…

READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Samsara Kata

Hello world!

By on June 13, 2017

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Permainan Kata

Jeritan Tanpa Suara

By on May 21, 2017
Ini adalah bagian keempat dalam permainan kata-kata di @samsarakata Tema cerita dipilih dan dikurasi oleh @rarahumairah165
READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Permainan Kata

Cinta Sang Pencipta

By on May 15, 2017
Ini adalah bagian ketiga dalam permainan kata-kata di @samsarakata Tema cerita dipilih dan dikurasi oleh @asave38
READ ARTICLE


VIEW POST

View more
Permainan Kata

Nostalgia Di Pojokan Kantin Sekolah

By on May 11, 2017
Ini adalah bagian kedua dalam permainan kata-kata di @samsarakata Tema cerita dipilih dan dikurasi oleh @mirtanjung.
READ ARTICLE
Samsara Kata
Tanda Baca Belum Pulang Dari Berjuang

Samsarakata menuliskan huruf ke kata ke kalimat. Mari menulis bersama kami.